Mungkin ini cerita yang saya sendiri sebagai penulis belum tahu akhirnya happy ending atau sebaliknya.
Tokoh dalam cerita ini ada Aku (Faid), Ani, Fenny, Ternadi, Gita, Grace, Pak Isa.
Ya, namaku Faid, hanya seorang lelaki biasa yang punya mimpi besar.
Terlahir dari keluarga sederhana, anak ke 7 dari 8 bersaudara yang kemungkinan dijaman sekarang sudah susah menemui keluarga dengan jumlah anak sebanyak itu. Ya tapi aku sangat bersyukur terlahir dari keluarga yang besar (jumlahnya).
Masa kecil ku seperti anak-anak pada umumnya. Sekolah, bermain, mengaji, ya dominan di tiga hal itu memang. Sungguh masa-masa yang indah untuk dikenang, dan pasti semua orang ingin kembali menjadi anak kecil.
Faid kecil mengawali dunia pendidikan di MI Washilatut Taqwa, melanjutkan di MTs Sultan Agung, kemudian di SMA 1 Jekulo Kudus. Di SMA ini lah perjalanan mendapatkan cinta di mulai.
Masuk di SMA sungguh menjadi masa2 yang begitu mengharu biru. Ketika itu keluarga sedang berada di kesulitan keuangan, ketika mendaftar aku khawatir tidak dapat masuk, bukan karena nilai yang tidak mencukupi tapi karena faktor keuangan yang memang sedang berada dititik rendah, ditambah lagi adikku juga harus melanjutkan pendidikan ke SMP, ya tentunya butuh banyak dana.
Masih ingat betul ketika itu adikku sebenarnya sudah diterima di MTs favorit di Kota Kudus, dan perlu biaya yang mahal ketika harus sekolah disana. Disanalah dilema mulai muncul.
Jika adikku melanjutkan sekolah di kota maka aku harus mengalah untuk tidak melanjutkan ke SMA karena keterbatasan dana. Akhirnya setelah melalui pembicaraan dengan orang tua adikku bersedia untuk melanjutkan sekolah di MTs didesa, dan aku bisa melanjutkan sekolah jenjang SMA. Berkas pendaftaran SMA sudah ku masukkan, tiba hari pengumuman hasil dan akhirnya aku diterima dengan rangking 22 dari 280an siswa. Sebuah kebanggaan tersendiri bagiku karena notabene aku berasal dari MTs yang tidak pernah dipandang orang, MTs di desa yang tidak pernah terdengar gaungnya di Kab. Kudus, aku bangga karena peringkat 22 itu kudapatkan dari hasil nilai Ujian Nasional yang jujur, murni dan tanpa contekan. Ya memang ketika ujian Nasional aku tidak mencontek sama sekali dan hasilnya memuaskan.
Lepas pengumuman penerimaan siswa baru SMA kegelisahan barulah muncul karena harus membayar biaya awal masuk sekolah yg nilainya tidak sedikit, meliputi biaya seragam, administrasi, uang gedung SPP awal. Duh pusing kalau aku ingat masa-masa itu.
Sempat aku merasa pesimis bisa melanjutkan SMA karena keterbatasan dana. Tapi orang tuaku ternyata tidak ingin aku putus sekolah, dengan berbagai upaya akhirnya terkumpul uang untuk membayar biaya awal sekolah.
Alhamdulillah, aku bisa masuk SMA.
Belum berhenti disitu, masuk SMA seragam baru, aku masih ingat ada 3 setelan seragam kala itu, OSIS, Pramuka dan batik. Karena keterbatasan dana aku hanya bisa menjahitkan seragam batik, sementara seragam OSIS dan Pramuka aku pakai seragam bekas kakakku yang sudah lulus SMA.
Bisa dibayangkan saat temen2 yang lain seragamnya masih baru dan aku mengenakan seragam bekas. Tapi aku tetap bersyukur masih bisa sekolah. Tidak hanya seragam, sepatu sekolahpun aku memakai sepatu bekas kakakku yang sudah berlubang di bagian jempol kanannya. Sedih kalau ingat masa-masa itu. Terkadang malu dengan keadaanku yang seperti itu, tapi aku ingin sekolah bagaimanapun keadaannya.
Ya, aku lalui masa2 sekolah dengan segala keterbatasan. Akupun masih ingat betul ketika ke sekolah aku menggunakan sepeda ontel tua berjejer dengan ratusan sepeda motor diparkir sekolah. Ada 2 sepeda kala itu yang sama-sama sepeda tua. Satu milikku, satu lagi milik kakak kelas bernama Rif'an (sekarang bekerja di kantor pajak di Jambi). Aku bersyukur masih ada teman yang membawa sepeda ke sekolah walaupun hanya 2 orang, ya minimal sepedaku ada teman berjejer di tempat parkir. Aku harus mengalahkan rasa minder ku karena ke sekolah hanya naik sepeda ontel, aku harus terus berjuang untuk masa depanku.
Satu semester terlalui, aku masuk rangking 8 di kelas. Semester kedua naik jadi rangking 4 di kelas. Kelas XI dan XII aku ambil jurusan IPS disanalah rangking 1 tak pernah lepas dariku. Aku terkadang senyum senyum sendiri kalau ingat masa2 itu, dapat rangking 1 dan ketika itu menjabat sebagai ketua OSIS yang menurut Bu Armi dan Pak Hari selaku Wakasek kesiswaan dan pembina OSIS belum pernah ada sejarah di SMA jekulo yang menjabat sebagai ketua OSIS bisa dapat rangking 1, maklum karena memang ketua OSIS jarang masuk kelas. Banyak kegiatan diluar kelas dan mengorbankan pelajaran di kelas.
Perkenalannya cukup ya.
Kita mulai bahas tentang bagaimana aku jatuh cinta pada teman sekolah bernama TIARA KANDHI KARISMA PUTRI yang cintanya tak pernah kudapatkan.